Malam itu jam sebelas lewat. Anakku yang baru tiga tahun tiba-tiba bangun, nangis kencang, dan nggak mau ditenangkan sama apa pun. Bukan haus, bukan pipis, bukan karena mimpi buruk. Dia cuma... rewel. Aku sudah gendong, nyanyi, kasih susu, tetap nangis. Suamiku sudah tidur karena besok kerja pagi. Dan aku di kamar itu, masih pakai daster, rambut acak-acakan, ngerasa mau ikut nangis aja.
Kalau kamu pernah ada di posisi itu, kita satu kapal. Dan lucunya, justru dari momen-momen kayak gitu aku belajar banyak soal sabar—bukan dari buku parenting atau postingan motivasi di Instagram.
Rewel Itu Bukan Anaknya yang Salah
Dulu aku sempat berpikir, kalau anak rewel berarti aku gagal ngasuh. Entah kurang perhatian, entah pola makannya salah, entah aku terlalu sering main HP. Pikiran kayak gitu bikin aku makin stres, dan ujung-ujungnya aku yang jadi gampang naik darah.
Lama-lama aku sadar, anak rewel itu ya bagian dari tumbuh. Kadang dia cuma capek, kadang bosan, kadang belum bisa ngomong apa yang dia rasa. Tugas aku bukan menghilangkan rewelnya secepat mungkin, tapi menemani sampai dia tenang. Bedanya besar banget, lho. Waktu aku berhenti ngejar "anak harus diam sekarang", aku jadi lebih tenang sendiri.
Tiga Momen yang Bikin Aku Berubah
1. Saat dia nangis karena sepatu nggak mau dipakai
Kedengarannya sepele, ya. Tapi pagi itu aku buru-buru, mau antar dia ke posyandu, dan dia mendadak nangis karena sepatu yang biasa dia pakai tiba-tiba "nggak enak". Aku hampir membentak. Untung aku tarik napas dulu.
Ternyata di dalam sepatu ada kerikil kecil. Selesai. Satu menit. Kalau aku tadi meledak, yang ada kami berdua sama-sama pagi yang buruk. Sejak itu aku coba aturan sederhana: tanya dulu, jangan langsung marah. Kadang jawabannya memang nggak masuk akal, tapi setidaknya aku dengar dulu.
2. Saat dia rewel di depan keluarga besar
Ini yang paling bikin hati panas. Waktu kumpul keluarga, anakku tiba-tiba ngambek, nggak mau salim, disembunyiin di belakang aku. Ada om-om yang bilang, "Nah, kurang dilatih tuh." Dalam hati aku pengen ngelus dada.
Tapi aku belajar satu hal: anakku bukan proyek yang harus dipamerkan. Kalau dia lagi nggak nyaman, ya wajar dia cari perlindungan ke ibunya. Aku nggak perlu membela diri berlebihan, cukup bilang santai, "Lagi capek, Om," lalu peluk anakku. Kadang orang lain nggak paham, dan itu nggak apa-apa.
3. Saat aku sendiri yang hampir meledak
Ini jujur ya. Ada satu sore, anakku nangis terus hampir satu jam, dan aku ngerasa dada sesak. Aku sempat mau bentak. Tapi aku inget kata temanku: kalau mau marah, taruh anak di tempat aman dulu, lalu ambil jeda sebentar.
Aku taruh dia di kasur dengan mainan, aku ke dapur, minum air putih, tarik napas. Dua menit doang. Balik lagi, aku sudah lebih bisa mikir. Nggak ada yang salah dengan minta jeda—itu bukan tanda ibu yang lemah, justru tanda ibu yang sadar diri.
Yang Aku Lakukan Sekarang Biar Nggak Gampang Habis Sabar
Nggak ada rumus ajaib, tapi beberapa hal ini lumayan ngebantu banget di rumah:
- Bikin "kotak darurat". Isinya mainan kecil, buku, atau camilan yang cuma keluar kalau anak mulai rewel di luar rumah. Efeknya kayak sulap, serius.
- Turunkan ekspektasi. Aku nggak lagi berharap anak diam sepanjang acara keluarga atau nggak rewel di supermarket. Kalau aku nggak berharap muluk, aku nggak gampang kecewa.
- Bagi tugas sama suami. Malam-malam tertentu, dia yang pegang anak kalau aku sudah mentok. Nggak perlu nunggu aku collapse dulu baru minta tolong.
- Kenali pemicu rewel. Anakku paling rewel kalau lapar atau capek. Jadi aku usahakan bawa camilan dan nggak maksa jalan terus kalau dia sudah kelihatan lelah.
- Maafin diri sendiri. Kalau hari ini aku sempat bentak atau nggak sabar, ya sudah. Besok coba lagi. Nggak ada ibu yang sempurna, dan anak kita nggak butuh ibu sempurna—mereka butuh ibu yang mau terus belajar.
Anak rewel bukan ujian yang harus kamu menangkan. Ini bagian dari hari-hari yang memang berat, dan kamu nggak harus melaluinya sendirian.
Ngomong-ngomong soal hubungan keluarga
Ada satu hal yang aku sadari belakangan. Cara aku merespons anak yang rewel ternyata juga memengaruhi hubunganku sama suami dan keluarga besar. Waktu aku lebih tenang, suamiku juga ikut lebih tenang. Waktu aku nggak gampang tersinggung sama komentar keluarga, suasana kumpul jadi lebih hangat. Jadi sabar itu efeknya nggak cuma ke anak, tapi ke seluruh rumah.
Aku juga mulai ngobrol lebih terbuka sama suami soal batas-batas. Misalnya, kalau anak lagi rewel, kami sepakat nggak saling menyalahkan di depan anak. Ribut kecil soal "kamu sih nggak bantuin" itu wajar, tapi kami usahakan dibahas setelah anak tidur. Kedengarannya sepele, tapi lumayan banget ngurangin drama di rumah.
Kalau kamu sekarang lagi di fase anak sering rewel dan kamu ngerasa capek banget—aku ngerti. Nggak semua hari bakal mulus. Tapi momen-momen kayak gini pelan-pelan ngajarin kita jadi orang tua yang lebih sabar, lebih peka, dan lebih jujur sama diri sendiri. Dan itu, menurutku, hadiah paling berharga dari ngasuh anak.